Ad Code

Kongres Perempuan Indonesia di Deklarasikan Kembali dirangkai Dengan Peringatan Hari Kartini Oleh Ratna Sarumpaet

 

Kongres Perempuan Indonesia di Deklarasikan Kembali dirangkai Dengan Peringatan Hari Kartini  Oleh Ratna Sarumpaet


Jakarta, infoindonesia.co - Melalui televisi saat  berada di tahanan Ratna Sarumpaet menyaksikan betapa buruk dan kotornya proses Pemilu 2019 yang sampai mengorbankan 800 lebih nyawa petugas TPS. Fenomena tersebut membuatnya mulai melakukan upaya untuk menyelamatkan Bangsa Indonesia dengan membawa kembali Undang-undang Dasar yang asli.


Setelah keluar dari tahanan, untuk memutuskan hasratnya beliau menggelar Kongres Perempuan Indonesia sebagaimana pernah digelar dimasa lalu. Kongres Perempuan Indonesia yang pertama diadakan di Yogyakarta pada Sabtu 22--25 Desember  1928  dengan tujuan memperjuangkan hak- hak perempuan, terutama di bidang pendidikan dan pernikahan. Kongres kedua digelar tanggal 20 -- 24 Juli 1935 di Jakarta membahas masalah perburuhan perempuan, pemberantasan buta huruf dan perkawinan.


"Kami tidak tahu persis apakah Kongres yang di deklarasikan pada tanggal 23 April 2022 ini yang ke empat atau kelima. Kami belum memutuskan seperti apa proses dan bentuknya, namun tujuan utamanya adalah mengembalikan Pancasila kedalam UUD 1945 yang asli," ujar Ratna Sarumpaet usai mendeklarasikan Kongres Perempuan di Gedung Pelatihan Seni Budaya Duren Sawit Jakarta Timur, Sabtu (23/04/2022).


Pada acara deklarasi Kongres Perempuan Indonesia ini mengangkat tema "Perempuan Bersatu Korban Utama Kerusakan Bangsa " dihadiri oleh Dr.dr.Siti Fadila Supari,SpIp, Wati Imhar Ketua Aspirasi, Mirah Sumirat,SE Presiden ASPEK, DR. Chandra Motik,SH, MSc dan Cok Safitri Aktifis perempuan Bali (hadir secara virtual).


"Di era Soekarno sikap politik Internasional sangat dihormati dan dikagumi namun saat ini semua kewibawaan itu lenyap, kini rakyat  Indonesia mulai dilanda kemiskinan, negara nyaris pailit terjerat lilitan utang luar negeri. Penguasa hanya memberi janji- janji sorga tapi kemiskinan terus bertambah akibat harga- harga kebutuhan pokok terus melambung tinggi dan semakin banyak pengangguran tapi pekerja  dari luar/ WNA terus berdatangan ke Indonesia dan difasilitasi oleh pemerintah. Semua ini berlindung dengan alasan pandemi namun dengan adanya pandemi segelintir orang yang tak punya hati justru memperkaya diri," ungkapnya.


"Reformasi yang diharapkan Rakyat Indonesia akan menjadi era perubahan dan mengantar rakyat Indonesia ke masa keemasan ternyata sejak awal telah disusupi penumpang gelap yang tak lain adalah rezim Internasional serta antek- anteknya di MPR dan pemerintahan. Secara resmi menyingkirkan nilai- nilai pancasila dari batang tubuh Undang - Undang Dasar 1945 kemudian mengganti dengan nilai- nilai individualisme, kapitalisme, neokolonialisme  liberalisme dll. Inilah yang membuat sistem pemerintahan jadi liar. Presiden bisa berbuat dan memutuskan apapun sesuka hati, karena tidak lagi menjadi mandataris MPR. Anggota MPR bisa jadi kaki tangan oligarki dan elit politik karena amandemen telah menghilangkan utusan golongan dan utusan daerah," tegas Ratna Sarumpaet.


"Betapa hancurnya kita, bangsa ini mulai pailit dari sisi manapun kita melihatnya. Negara dililit utang tak jelas peruntukannya, 60% rakyat hidup dibawah garis kemiskinan. Mereka tak henti meneriakkan Pancasila tanpa mengetahui Pancasila sudah tak ada," imbuhnya.


" Oleh karena itu kaum perempuan tidak boleh berpangku tangan menerima nasib, harus ikut bergerak, ikut menjaga bangsa ini agar tidak terpecah belah. Karena Perempuan adalah jantung sekaligus ibu kehidupan  sebuah negara, kaum perempuan harus bangkit dan bersatu menolak setiap bentuk kewenang- wenangan. Sebagai empu bagi kehidupan bangsanya kaum perempuan Indonesia wajib dan mampu membeba,skan bangsa ini dari kehancuran," pungkasnya. (*)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu