Ad Code

Responsive Advertisement

Survei: Masyarakat Lebih Memilih Risma Jadi Capres 2024 Ketimbang Puan Maharani

Keterangan foto: Presiden RI kelima, Megawati Soekarnoputri bersama Tri Rismaharini dan Puan Maharani. (Istimewa)



 

JAKARTA, infoindoneaia.co - Hasil survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga baru-baru ini mengungkapkan, bahwa masyarakat lebih memilih sosok Tri Rismaharini atau Risma, ketimbang Puan Maharani--sebagai calon presiden (capres) yang dianggap potensial dari kalangan tokoh perempuan--pada Pilpres 2024.


Dikutip dari Tempo.co, Sabru (05/06/2021), setidaknya ada lima nama yang masuk dalam bursa survei tersebut. Diantaranya, Eks Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Sosial Tri Rismaharini, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua DPR RI Puan Maharani, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.


Adapun lembaga survei yang pertama, yakni LSI--yang merilis hasil sigi terbaru pada Februari lalu berdasarkan survei yang dilakukan pada 25-31 Januari 2021. Survei ini melibatkan 1.200 responden dengan metode multistage random sampling, margin of error 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.


LSI melakukan simulasi semi terbuka dengan menunjukkan daftar 29 nama dan responden boleh menyebutkan nama lain, hasilnya muncul nama lima tokoh perempuan. Sigi menunjukkan elektabilitas Tri Rismaharini 5,5 persen; Susi Pudjiastuti 2,3 persen; Khofifah Indar Parawansa 1,8 persen; Sri Mulyani Indrawati 0,5 persen; dan Puan Maharani 0,1 persen.


Lembaga survei kedua, yakni Charta Politika. Lembaga ini juga merilis hasil sigi terbaru pada Maret 2021 berdasarkan survei yang dilakukan pada 20-24 Maret 2021. Survei melibatkan 1.200 responden melalui wawancara telepon. 


Adapun metode yang digunakan yakni stratified dengan pengacakan sistematis. Charta Politika mengklaim margin of error survei 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

 

Dalam simulasi 12 nama, ada dua nama tokoh perempuan yang masuk radar survei, yakni; Risma dan Puan. Elektabilitas Tri Rismaharini 5,3 persen dan Puan Maharani 1,2 persen.


Lembaga survei ketiga, yakni Akar Rumput Strategic Consulting, juga melakukan survei dengan mewawancarai 1.200 responden acak di 34 provinsi pada 26 April-8 Mei 2021. Metode survei yang dilakukan adalah multistage random sampling, dengan margin of error lebih kurang 2,9 persen dan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen. 


Hasilnya, elektabilitas Risma berada di angka 3,97 persen. Di bawah Risma ada Puan Maharani dengan 2,48 persen dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa 0,66 persen.


Masih berdasarkan ulasan Tempo.co, pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyebut, meskipun masih punya PR meningkatkan elektabilitas, Khofifah punya peluang kuat dilirik sebagai kandidat paslon menuju Pilpres 2024, lantaran memiliki jaringan Islam perempuan dan punya jaringan kuat. 


"Tidak hanya di Jawa Timur, tapi juga di seluruh Indonesia," kata Hendri dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 29 April 2021.

 

Peluang Puan Maharani pun dinilai lebih besar lagi, karena dengan persentase kursi DPR sebesar 22,26 persen, PDIP bisa mengusung calon sendiri.


Namun, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Firman Noor mengatakan, posisi PDIP masih cukup dinamis dalam menentukan capres 2024. Ia beranggapan bahwa PDIP tak akan nekat mengusung Puan ketika elektabilitasnya rendah. 


Firman yakin pada akhirnya PDIP akan mengalah dan memilih calon presiden yang mempunyai elektabilitas tinggi. Firman mengambil contoh keputusan Megawati dalam pemilihan presiden 2014 yang memilih Jokowi sebagai calon presiden.


"Setingkat Megawati saja akhirnya harus mengalah oleh survei elektabilitas. PDIP pasti berhitung," kata Firman.

 

la berpendapat, jika PDIP berkukuh memilih Puan, mereka harus mengeluarkan energi yang lebih besar untuk mendongkrak elektabilitas anak Megawati tersebut. "Setidaknya mulai bergerak sejak akhir tahun ini, tentu dengan bantuan partai pendukung," katanya.


Adapun Susi Pudjiastuti menyebut, bahwa sistem politik di Indonesia tak memungkinkan dirinya mencalonkan diri sebagai kepala negara secara independen. Biasanya, setiap partai di Republik Indonesia telah mempunyai capres pilihan masing-masing untuk dicalonkan menjadi presiden nantinya.


"Ya tidak bisa. Partainya juga tidak mau, tidak akan suka sama saya. Orang kayak Susi yang lulus SMA bisa jadi menteri itu sudah keajaiban, dan itu karena Pak Jokowi angkat saya," ujar Susi, April 2020 lalu.


Sementara Risma menegaskan dirinya tak berminat menjadi calon presiden pada 2024 mendatang. "Aku enggak punya duit, dan aku enggak kepengin," kata Risma di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 24 Mei 2021. Adapun Sri Mulyani belum pernah berbicara seputar kemungkinan menjadi capres di Pilpres 2024. (FikA)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu