Ad Code

Responsive Advertisement

Sosok Naftali Bennett, Miliarder Teknologi Calon Pengganti PM Israel Benjamin Netanyahu

Keterangan foto: Naftali Bennett (kiri) dan Benjamin Netanyahu (kanan).-Istimewa.


 

JAKARTA, infoindonesia.co - Naftali Bennett, calon kuat Perdana Menteri Israel yang segera mengakhiri era Benjamin Netanyahu ini merupakan seorang miliarder teknologi mandiri kelahiran Kota Haifa, Israel, putra dari imigran dari San Francisco.

Dilansir dari Tempo.co, Kamis (03/06/2021), pria berusia 49 tahun itu merupakan seorang Yahudi religius Ortodoks modern. Dia tinggal bersama istrinya, Gilat, seorang koki dessert, dan empat anak mereka di pinggiran kota Raanana yang makmur di Tel Aviv.

Seperti Netanyahu, Bennett fasih berbahasa Inggris beraksen Amerika dan menghabiskan sebagian masa kecilnya di Amerika Utara, di mana orang tuanya sedang cuti panjang.

Saat bekerja di sektor teknologi tinggi, Bennett juga belajar hukum di Universitas Ibrani Yerusalem. Pada tahun 1999, ia membentuk sebuah perusahaan startup dan kemudian pindah ke New York, akhirnya menjual perusahaan perangkat lunak anti-penipuannya, Cyota, ke perusahaan keamanan AS RSA seharga US$ 145 juta (Rp 2 triliun) pada tahun 2005.

Bennett merupakan mantan komando dan menamai putra sulungnya setelah saudara laki-laki Netanyahu, Yoni, yang terbunuh dalam serangan Israel untuk membebaskan penumpang yang dibajak di bandara Entebbe Uganda pada tahun 1976.

Bennett memiliki hubungan yang panjang dan rumit dengan Netanyahu, ia pernah bekerja antara tahun 2006 dan 2008 sebagai ajudan senior pemimpin oposisi saat itu sebelum mundur.

Bennett masuk ke politik nasional pada tahun 2013, membenahi partai pro-pemukim dan menjabat sebagai menteri pertahanan serta pendidikan dan ekonomi di berbagai pemerintahan Netanyahu.

Ia juga seorang mantan pemimpin Yesha, gerakan pemukim utama di Tepi Barat. Bennett menjadikan pencaplokan bagian-bagian wilayah yang direbut Israel dalam perang 1967 sebagai kampanye politiknya.

Namun begitu, Bennett akan bergabung dengan koalisi yang akan mencakup partai-partai sayap kiri dan sentris, sambil mengandalkan dukungan dari legislator Arab di parlemen. Dimana konsekuensi dari koalisi ini membuat Bennett tidak mungkin menindaklanjuti "mimpi" pencaplokan wilayah secara politik tersebut. (FikA)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu