Ad Code

Responsive Advertisement

Kawin Kontrak atau Pelacuran? Nih Kata Bupati Cianjur

Kerangan foto: Kawin kontrak. (Ilustrasi/Istimewa).


JABAR, infoindonesia.co - Bupati Cianjur, Herman Suherman memastikan praktek kawin kontrak yang terjadi di kawasan wisata Puncak, Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merupakan bagian dari prostitusi terselubung.


"Setelah ditelusuri, seluruh perangkat yang terlibat, seperti penghulu atau amil, wali nikah perempuan, dan saksi nikah seluruhnya merupakan sindikat atau jaringan prostitusi yang berasal dari luar Cianjur," ujar Bupati Cianjur Herman kepada wartawan di Cianjur, Rabu (09/06/2021), seperti dikutip dari Tempo.co.


Untuk Pemerintah Kabupaten Cianjur pun akan mengeluarkan Perbup terkait larangan kawin kontrak untuk mencegah maraknya praktek tersebut.


"Kami akan segera membuat Peraturan Bupati terkait larangan kawin kontrak, mencakup larangan secara umum untuk warga lokal, luar kota dan wisatawan asing," kata Herman sebelumnya, di Cianjur, Jumat (04/06/2021).


Terpisah, Dudi (bukan nama sebenarnya), seorang warga setempat yang sempat menjadi saksi nikah, mengungkapkan, para wisatawan asal Timur Tengah yang berlibur dan berniat kawin kontrak di Puncak, Cipanas, sudah lebih dahulu menghubungi agen yang ada di Indonesia.


Para wisatawan itu pun telah menyampaikan kriteria perempuan yang nantinya akan menemani selama wisatawan itu berada di Indonesia.


"Jadi sudah ada seperti agen. Mereka akan memesan perempuan sesuai kriteria atau seleranya. Selanjutnya, agen ini akan menyiapkannya," kata Dudi.


Setibanya di Cianjur, lanjut Dudi, para wisatawan ini akan langsung diperkenalkan ke sejumlah perempuan yang telah dipesannya melalui agen. Selanjutnya, mereka akan menjalani prosesi nikah kontrak.


"Sebab mulai dari penghulu, wali nikah perempuan, saksi nikah semuanya telah disiapkan oleh agen tersebut. Bahkan, terkadang penghulu yang menikahkan tidak memiliki dasar ilmu terkait tata cara pernikahan. Yang penting terlaksana dan hanya formalitas," jelasnya.


Dudi menyebutkan, untuk perempuan yang mau menjalani kawin kontrak sebagian besar merupakan perempuan tuna susila. Tapi ada juga perempuan yang bukan tuna susila, tapi terbiasa menjalani kawin kontrak.


"Mereka perempuan dari luar Cianjur, ada yang tuna susila. Ada juga yang memang spesialis melayani tamu asal Timur Tengah berkedok kawin kontrak," katanya.


Masih berdasarkan ulasan Tempo.co, Kepala Desa Sukanagalih, Dudung Djaenudin memastikan, bahqa seluruh perangkat desa, terutama penghulu atau amil yang ada di lingkungan desanya tidak pernah terlibat dalam praktek tersebut.


"Saya pastikan tidak ada perangkat desa, baik penghulu atau amil yang terlibat dalam praktek kawin kontrak itu," kata Dudung.


Dudung mengungkapkan, praktek kawin kontrak di Cianjur merupakan kegiatan ilegal dan menyalahi aturan, baik agama ataupun pemerintah.


"Ini sudah sangat jelas merupakan bagian dari bisnis prostitusi yang berkedok pernikahan. Kami ingin segera ada tindakan dari pemerintah daerah untuk menertibkan praktik ilegal ini," ujarnya. (FikA)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu