Ad Code

Responsive Advertisement

Daftar BUMN yang Memiliki Utang Super Jumbo, Siapa "Juaranya"?

Keterangan foto: (Ilustrasi/Istimewa)

 

JAKARTA, infoindonesia.co - Beberapa pekan terakhir, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan viralnya pemberitaan terkait utang sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang nilainya sangat fantastis. Mulai dari puluhan hingga bahkan ratusan triliun rupiah.


Alih-alih bakal mereda dan menghasilkan laba, sejumlah pihak memprediksi bahwa utang-utang ini bakal terus membengkak setiap bulannya--jika BUMN-BUMN ini tidak segera melakukan upaya pembenahan secara radikal dan komprehensif. 


Berikut daftar utang-utang BUMN yang memiliki nilai super jumbo, seperti dikutip dari Merdeka.com, Selasa (08/06/2021):


1. Garuda Indonesia


Maskapai nasional Garuda Indonesia tengah mengalami kesulitan keuangan imbas berbagai masalah dan dampak pandemi Covid-19. Utang perseroan hingga kini terus menumpuk mencapai Rp70 triliun, dan diperkirakan terus bertambah Rp1 triliun tiap bulannya.


Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo mengatakan, utang ini disebabkan karena biaya sewa (leasing) pesawat yang di luar batas wajar, jenis pesawat yang terlalu banyak, dan rute penerbangan yang tidak menguntungkan.


Berbagai siasat pun dilakukan untuk menyelamatkan BUMN penerbangan ini, mulai dari pensiun dini karyawan hingga penangguhan gaji komisaris.


2. BUMN Karya


BUMN-BUMN di bidang konstruksi juga tercatat memiliki masalah utang melampaui batas wajar. Secara rinci, total utang BUMN konstruksi seperti Adhi Karya mencapai Rp34,9 triliun, Waskita Karya Rp91,76 triliun, PTPP Rp39,7 triliun, dan Wijaya Karya Rp45,2 triliun.


Menurut ekonomi, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity (DER) Adhi Karya memiliki angka yang tinggi dibanding BUMN karya lainnya. 


Adapun DER Adhi Karya mencapai 5,76 kali. Untuk DER Waskita Karya sebesar 3,42 kali, PT PP (Persero) Tbk sebesar 2,81 kali dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebesar 2,70 kali.


3. PLN


Selain Garuda Indonesia dan BUMN Karya, PT PLN (Persero) juga disebutkan terlilit utang hingga mencapai Rp 500 triliun pada akhir 2019. Perusahaan pelat merah tersebut terbebani utang dalam jumlah super besar lantaran sibuk mencari pinjaman untuk membiayai proyek kelistrikan 35 ribu megawatt (MW).


Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan, kenaikan utang sebesar Rp500 triliun tersebut terjadi dalam 5 tahun terakhir. Padahal, pada 2014 perseroan hanya berutang tidak sampai Rp 50 triliun. (FikA)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu