Ad Code

Responsive Advertisement

Yenny Wahid: Waktu Saya Masuk, Utang Garuda Sudah Rp 20 T

Keterangan Foto: Yenny Wahid.-Istimewa.

 


Jakarta, infoindonesia.co - Komisaris Independen PT Garuda Indonesia (Persero), Yenny Wahid menyatakan, bahwa PT Garuda Indonesia (Persero) sudah mengalami banyak masalah. Bahkan sejak dirinya ditunjuk sebagai komisaris pada tahun 2020 lalu, Garuda tercatat sudah memiliki utang sebesar Rp 20 triliun.


"....Waktu saya masuk, hutang Garuda sudah lebih dari 20 T, lalu kena pandemi, setiap terbang pasti rugi besar. Demi penumpang, kami terapkan social distancing meskipun biaya kami jd 2xlipat dengan revenue turun 90%. Sdh jatuh tertimpa tangga," kata Yenni, dikutip dari akun Twitternya, Senin (31/05/2021).


Yenny Wahid menjelaskan, banyak warisan masalah yang diterima manajemen Garuda saat ini, mulai dari korupsi sampai pengeluaran yang tidak efisien.


"Saat ini kami sedang berjuang keras agar Garuda tidak dipailitkan. Problem warisan Garuda besar sekali, mulai dari kasus korupsi sampai biaya yang tidak efisien," kata dia.


Dikutip dari Detikcom, melansir dari laporan Bloomberg, Garuda saat ini disebut memiliki utang sekitar Rp 70 triliun. Utang itu akan meningkat sekitar Rp 1 triliun setiap bulannya karena Garuda terus menunda pembayaran. 


Saking banyaknya utang tersebut, Garuda disebut berada dalam posisi keuangan terburuk selama satu dekade dengan memiliki arus kas negatif dan ekuitas minus Rp 41 triliun.


Dengan kondisi itu, apabila Garuda gagal melakukan program restrukturisasi, bisa membuat maskapai dihentikan secara tiba-tiba.


Untuk memulihkan keuangan perusahaan, Garuda bahkan menawarkan opsi pensiun dini kepada para karyawannya. Adapun program pensiun dini akan ditawarkan sebulan, sejak 19 Mei yang lalu hingga 19 Juni 2021 mendatang.


Berdasarkan rekaman rapat internal Garuda yang diterima Detik.com, Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra memaparkan kini penghasilan perusahaan hanya mencapai US$ 56 juta. Jumlahnya jauh di bawah tahun jaya Garuda Indonesia yang bisa mencapai US$ 200 juta per bulan di tahun 2019.


Di sisi lain, Irfan memaparkan perusahaan harus tetap membayar sewa pesawat US$ 56 juta tiap bulan, biaya maintenance US$ 20 juta, biaya bahan bakar avtur US$ 20 juta, dan membayar penghasilan pegawai US$ 20 juta. (FikA)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu