Ad Code

Responsive Advertisement

Menakar Peluang Koalisi, PDIP: Soal Kedekatan, Bukan Hanya Prabowo, Mega Juga Dekat Dengan Banyak Tokoh Politik

Keterangan Foto: Pertemuan antara Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketum Gerindra, Prabowo Subianto, beberapa waktu lalu. Istimewa.

 


Jakarta, infoindonesia.co - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristyanto menanggapi normatif soal peluang koalisi antara pihaknya dengan Prabowo Subianto, dalam Pilpres 2021 mendatang.


Jika sebelumnya Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menyampaikan, bahwa peluang tersebut sangat dimungkinkan terjadi lantaran kedekatan Prabowo dengan Megawati Soekarnoputri selaku Ketum PDIP, maka Hasto menilai hal itu sah-sah saja.


Namun menurut Hasto, tak hanya kepada Prabowo, Megawati memiliki kedekatan kepada banyak tokoh politik lain.


"Pernyataan dari Mas Muzani karena memang melihat bagaimana kedekatan hubungan Pak Prabowo dengan Ibu Megawati karena selain aspek ideologi, faktor kedekatan kultural, kedekatan organisasi, kedekatan basis massa, kedekatan dari aspek strategi untuk memperluas basis massa itu juga akan menjadi pertimbangan," kata Hasto dalam diskusi Para Syndicate, Jumat (28/5/2021), seperti dikutip dari Detik.com.


Lebih lanjut, Hasto mengatakan PDIP tidak hanya dekat dengan Gerindra. Dia lantas menyampaikan PDIP bisa saja berkoalisi dengan partai mana pun, salah satunya dengan PAN.


"Saya tahu Pak Zulkifli, beliau adalah sosok yang berkomitmen dengan bangsa dan negara dengan sangat jelas. Ketika ditawari oleh koalisi partai atas dasar agama, beliau menegaskan itu akan menambah pembelahan yang terjadi. Kita ini negara begitu besar dari Sabang sampai Merauke," kata Hasto.


Begitu juga dengan PPP. Hasto membuka peluang koalisi dengan PPP karena senasib secara sejarah.


"Dengan PPP, kami juga mudah untuk berkoalisi, bukan hanya dia tetangga dekat dengan kami, tapi sejarah. Kami punya perasaan senasib zaman Orde Baru, itu membuat kita bertemu. Terbukti, ketika Bu Mega dijodohkan oleh MPR dengan Pak Hamzah Haz, bisa bersahabat dengan baik," ujarnya.


Tak hanya itu, PDIP kata Hasto juga berpeluang melakukan kerja sama dengan PKB. Hal ini karena PDIP dan PKB memiliki basis massa yang sama.


"PKB kami di PDIP ketika kami memperingati peringatan harlah dengan NU, itu kami kaget ternyata jumlah kepala daerah di PDIP yang berafiliasi dengan NU itu total kepala daerah dan wakil kepala daerah ada 101, sehingga itu juga kalau PKB sama PDIP itu hanya beda... tapi basis massa itu sama-sama NU," ujarnya.


Hasto menegaskan PDIP bisa berkoalisi partai mana pun dengan ideologi yang sama. Hasto berharap kontestasi Pilpres 2024 hanya diikuti oleh dua pasangan calon.


"Tahun 1912 berdiri Muhammadiyah, salah satunya lahirlah PAN, kami cocok. Kemudian tahun 1926 ada NU, lahir PKB dan PPP, kami cocok. Tahun 1945 berdiri dengan TNI, Pak Prabowo dari TNI, kami cocok," ujarnya.


"Jadi koalisi tentu saja kedepan kita tidak ingin energi bangsa ini tercurahkan di dalam kontestasi semata-mata, padahal untuk jadi pemimpin melalui proses penyiapan, bukan hanya lahir dari kontestasi yang sifatnya liberal. Maka kami akan membangun koalisi sehingga paling tidak pemilu ke depan itu hanya diikuti oleh dua pasangan calon, jadi tidak ada dua ronde supaya energi kita ini bisa difokuskan mengatasi berbagai persoalan," ujarnya. (FikA)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu