Ad Code

Responsive Advertisement

Ini Alasan Negara-Negara Arab Memilih Diam Atas Konflik Israel-Palestina


 

Jakarta, infoindonesia.co - Gencatan senjata yang terjadi di Jalur Gaza, antara tentara Israel dan Palestina melalui pasukan sayap Hamas Brigade Al Qassam, hingga kini masih terus berlangsung. Pertikaian lama yang kembali meletup pada awal memasuki bulan Syawal 1442/2021 kemarin itu pun telah memakan banyak korban jiwa.


Pertanyaan yang kerap muncul, kenapa banyak dari negara-negara Arab justru memilih "diam" terhadap tragedi kemanusiaan yang seakan tak berujung ini?


Dilansir dari Tribunnews.com, Kamis (20/05/2021), Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Ahmad Sahide mengatakan, bahwa diamnya negara-negara Arab tersebut karena memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap Amerika Serikat (AS). Sementara, AS memiliki lobi kuat Yahudi untuk menjaga politik luar negerinya, terutama dalam konflik Israel-Palestina.


Dengan kondisi itu, Palestina pun tidak memiliki dukungan politik dan strategi perjuangan yang kuat seperti Israel.


"Palestina tidak mempunyai strategi perjuangan seperti Yahudi dulu sewaktu awal menggagas untuk mendirikan negara Yahudi (Israel)," kata Sahide, Minggu (16/05/2021).


"Orang-orang Yahudi saat itu melakukan penggalangan dana, mendekati negara-negara yang berpengaruh di kancah dunia," sambungnya.


Selagi AS menjadi negara super power dan negara-negara Islam mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap Amerika, lanjutnya, maka Israel akan terus-terusan melakukan aksi brutalnya terhadap warga Palestina.


"Mengurangi tingkat ketergantungan terhadap AS tentu dimulai dengan mengembangkan sains, teknologi, dan ilmu pengetahuan," katanya.


Menurut Sahide, konflik Israel-Palestina tidak bisa diselesaikan dengan perang dan aksi militer. Sebab, Israel merupakan salah satu negara dengan alat militer terbaik di dunia.


"Terbukti pilihan itu tidak efektif. Kalau pendekatan itu ya jelas kalah dari Israel yang didukung dengan teknologi tinggi. Perlu ada pendekatan lain dalam meresponsnya, soft diplomacy misalnya," ujarnya. (FikA)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu