Ad Code

Responsive Advertisement

Bermodus Ritual Penggandaan Uang, Polisi Indramayu Bekuk Empat Orang Sindikat Uang Palsu

Keterangan Foto: Kepolisian Resor Indramayu berhasil mengungkap kasus peredaran uang palsu.-Istimewa.


Indramayu, infoindonesia.co - Kepolisian Resor (Polres) Indramayu, Provinsi Jawa Barat berhasil mengungkap sindikat peredaran uang palsu (upal) yang berkedok "bisa" menggandakan uang melalui ritual, dengan menangkap empat orang pelaku. 


Mereka antara lain; berinisial CAR (52 tahun), SAM (42 tahun), GUF (45 tahun) yang merupakan warga Indramayu, dan IM (46 tahun) yang merupakan warga Jember, Jawa Timur.


Dilansir dari Detiknews.com, Kapolres Indramayu, AKBP Hafidh S Herlambang mengatakan pengungkapan sindikat upal ini berdasarkan laporan yang masuk ke pihaknya yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan patroli, pada 20 Mei 2021 kemarin.


"Petugas mengamati dua orang yang mencurigakan akan melakukan transaksi. Setelah didekati petugas, satu orang melarikan diri," kata Hafidh, Minggu (23/05/2021).


Hafidh mengatakan satu orang pelaku berinisial CAR berhasil diamankan pada patroli itu. Dari keterangan sementara, CAR merupakan anak buah dari SAM. Kedua pelaku ini bertugas sebagai pengedar upal. Keduanya berhasil diamankan.


"Dari tersangka SAM ditemukan adanya upal senilai 400 juta yang disimpan di jok motor. Rencananya upal ini dibeli oleh orang dengan harga Rp 150 juta," kata Hafidh.


Tak hanya dari tangan SAM, polisi juga menggeledah rumah tersangka CAR. Di rumah CAR, polisi menemukan upal pecahan 100 ribu senilai 100 juta. Kepada polisi, CAR dan SAM mengaku upal ratusan juta itu berasal dari GUF dan IM yang bertugas mencetak uang palsu.


"GUF dan IM kita amankan juga. Keduanya bertugas mencetak upal. Petugas mengamankan cetakan upal yang belum dipotong, mesin penghitung uang, serta uang Dolar Singapura," kata Hafidh.


Hafidh mengatakan pelaku GUF dan IM telah menitipkan upal senilai miliaran rupiah kepada SAM. Bahkan, lanjut Hafidh, SAM mengaku sempat menjual upal senilai satu miliar dengan harga Rp 500 juta kepada salah seorang.


"Kemudian tim mengembangkan keterangan tersangka GUF. Ternyata GUF sempat menitipkan upal pecahan seratus senilai 24 miliar kepada SAM, yang disimpan di sebuah gubuk di Kecamatan Cantigi. Petugas mengamankan 11 miliar di lokasi tersebut," kata Hafid.


Dari hasil pemeriksaan sementara, para pelaku mengaku menipu korbannya dengan modus mampu melipatgandakan uang. 


"Tersangka mencetak upal tersebut untuk keuntungan pribadi dengan modus ritual penggandaan uang," kata Hafidh.


Akibat perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 244 KUHP juncto UU Nomor 7/2011 tentang Mata Uang dengan ancaman hukuman kurungan penjara paling lama seumur hidup, dan pidana denda paling banyak Rp 100 miliar. (FikA)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu