Ad Code

Responsive Advertisement

Miris, Langganan Terjadi Kebakaran Lahan, Tapi Desa Galang Malah Tak Tersentuh Bantuan BRGM?



Mempawah, infoindonesia.co - Kendati dicap sebagai salah satu wilayah rawan dan langganan terjadinya kebakaran lahan gambut di Kabupaten Mempawah, namun Desa Galang yang terletak Kecamatan Sungai Pinyuh belum pernah sekalipun tersentuh bantuan dalam bentuk apapun dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Provinsi Kalbar maupun pusat.


"Desa Galang ini sangat berpotensi dengan kebakaran lahannya. Biasa setahun 2 sampai 3 kali kebakaran lahan, seperti di wilayah Dusun Utara," kata Kepala Desa Galang, Rasidi, Kamis (29/04/2021).


Rasidi menyatakan, bahwa pihaknya sudah bolak-balik melakukan pengajuan atau permohonan, baik ke pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat, agar adanya bantuan berupa program penanggulangan bencana kebakaran lahan dan hutan di desanya. Namun sejak program BRGM bergulir sekitar tahun 2017-2018, harapan itu tak jua muncul.


"Dimulai dari 2017 atau 2018, dan selama ini Desa Galang belum mendapatkan bantuan apapun, padahal disini juga daerah gambut, apalagi tanah gambut disini mencapai kedalaman hingga 18 meter," terangnya.


Berdasarkan informasi yang ia terima, salah satu faktor kenapa Desa Galang tidak mendapat bantuan dari pemerintah khususnya BRGM, lantaran sempat adanya perubahan peta wilayah lahan gambut, yang menjadi dasar pengambilan kebijakan oleh BRGM dalam menyasarkan program-program ke wilayah bergambut.


"Jadi Desa Galang ini kalau menurut peta lapangan, berbatasan dengan Sungai Pinyuh. Tapi kalau di peta digital, Desa Galang berbatasan dengan Sungai Batang, nah yang dijadikan dasar oleh BRGM itu mereka pakainya peta digital, bukan peta lapangan," katanya.


Untuk melakukan perubahan peta digital ini pun, Rusdi mengaku juga sudah menyampaikan usulannya tersebut, dan pihak desa sendiri sangat mengharapkan tindak lanjut segera dari BRGM.


"Sudah itu, kami minta pengajuan agar dipetakan ulang agar masuk kedalam wilayah restorasi gambut, sudah kita kirim ke pusat, mudah-mudahan lah di tahun ini kita dapat (bantuan). Karena kemarin kita ada dapat balasan dari sana (BRGM), cuman program (tindak lanjut, red)-nya, kita tidak tahu," katanya.


Terkait kerentanan, Rasidi menyampaikan bahwa Desa Galang harus segera melakukan pembangunan kanal-kanal air dan pembangunan embung guna mengantisipasi dan meminimalisir terjadinya kebakaran lahan di tahun-tahun mendatang.


"Apalagi seperti saat-saat musim kemarau. Maka dari itu, kami sangat mengharapkan dengan BRGM ini, sehingga ada program-program yang bisa bermanfaat untuk penanggulangan bencana kebakaran, seperti desa-desa lainnya," katanya 


Senada dengan itu, Kepala Desa Sungai Bakau Besar Darat, Ahmad, turut menyayangkan tidak berlanjutnya program kanalisasi dan lainnya, dari BRGM. Ahmad mengaku, selama ini pihaknya hanya pernah mendapatkan satu kali bantuan program dari BRGM, yakni pada tahun 2017.


"Pernah dapat, untuk perawatan sekat kanal tahun 2017 dari BRGM. Setelah itu, sampai tahun 2021 ini tidak pernah dapat bantuan lagi. Rencananya tahun lalu (2020) ada bantuan untuk pemeliharaan sekat kanal, tapi belum ada realisasinya," katanya.


Seperti halnya Rasidi, Ahmad juga sangat berharap agar desanya juga mendapat perhatian yang adil dengan desa-desa lain--yang notabene masuk dalam kawasan gambut. Menurut perhitungannya, selain perawatan terhadap kanal yang sudah ada, beberapa wilayah di desa yang dipimpinnya itu sangat membutuhkan keberadaan embung dan sumur bor. 


"Kalau sudah terjadi kebakaran, susah sekali cari air untuk melakukan pemadaman. Idealnya, setiap 1 embung terdapat empat titik sumur bor. Sehingga kalau sudah masuk musim kemarau, tidak jauh cari air lagi," katanya. (FikA)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu