Ad Code

Responsive Advertisement

Masyarakat Diminta Tetap Patuhi Prokes Kendati Sudah Divaksin, Ini Alasannya



Mempawah, Infoindonesia.co - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mempawah, Jamiril meminta kepada masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, kendati yang bersangkutan telah melakukan vaksinasi Covid-19.


Hal itu lantaran kekebalan atau imunitas tubuh yang dihasilkan dari vaksinasi, baru benar-benar terbentuk secara total setelah 3 bulan pasca divaksinasi.


"Karena dalam jangka waktu 3 bulan baru total terbentuk proses imunitas di dalam tubuh kita. Vaksin ini diberikan 2 kali (tahapan), setelah (tahap) pertama, lalu 14 hari kemudian akan divaksin lagi (untuk tahap kedua)," ujar Jamiril disela-sela kegiatan Pencanangan Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 secara simbolis di Aula Balairung Setia Lantai 1 Kantor Bupati Mempawah, Senin, (18/01/2021).


Untuk itu, pasca kegiatan pencanangan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 ini pun, pihak Dinkes, kata dia akan tetap gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Selain untuk meminta kesadaran masyarakat dalam hal vaksinasi, juga terkait pentingnya tetap menjaga prokes selama periode yang dibutuhkan tadi.


Saat disinggung, apakah ada konsekwensi hukum atau sanksi bagi masyarakat yang tidak mau melakukan vaksinasi? Jamiril menyampaikan bahwa pihaknya lebih memilih mengedepankan kesadaran masyarakat dalam rangka ikut serta memutus rantai penyebaran pandemi Covid-19--yang notabene telah banyak memakan korban jiwa ini--melalui vaksinasi.


"Kalau (ditanya terkait-red) sanksi, itukan terlalu ekstrim lah bunyinya, tapi kita lebih menghimbau kepada kesadaran masyarakat dengan diberikannya vaksin ini maka penyebaran atau penularan Covid ini dapat kita cegah secara massal. Artinya (kedepan) dia tidak akan menularkan lagi dan tidak akan tertular lagi, karena dia telah mempunyai imunitas dari vaksin itu sendiri," bebernya.


Kendati demikian, Jamiril menjelaskan, bahwa tidak semua masyarakat yang bersedia atau mau divaksinasi, dapat serta-merta langsung di berikan vaksin oleh tim medis. Karena terdapat beberapa persyaratan medis yang harus dipenuhi masyarakat/pasien, sebelum vaksin tersebut disuntikkan kedalam tubuh.


Antara lain, kata Jamiril, masyarakat atau pasien akan terlebih dahulu diperiksa rekam medisnya, apakah yang bersangkutan memiliki riwayat penyakit bawaan (komorbid), melakukan pemeriksaan tekanan (tensi) darah, dan lain sebagainya.


"Masyarakat akan diperiksa, apakah memiliki penyakit bawaan, atau penyakit apa saja yang (tengah) di derita. Sesuai ketentuan itu ada 14 jenis penyakit yang tidak bisa dilakukan vaksinasi, termasuk kelainan kulit. Kalau untuk tensi (darah), yang paling bagus itu 120/90, atau biasa 120 atau 140, dibawah 150 (relatif masih bisa)," katanya.


Selain mengecek pelbagai jejak kesehatan, masyarakat atau pasien calon penerima vaksin juga akan dimintai "persetujuan"-nya terlebih dahulu secara tertulis--yang isinya menyatakan bahwa yang bersangkutan memang bersedia untuk divaksin.


"Masyarakat juga diminta secara tertulis sebagai bentuk persetujuan pasien," jelasnya.


Selanjutnya, pasca divaksinasi, masyarakat yang bersangkutan akan diberikan Kartu Vaksinasi Covid-19 dari tim medis, sebagai bukti tertulis yang menjelaskan bahwa yang bersangkutan sudah mendapat vaksinasi. Pentingnya, lanjut Jamiril, kartu ini dapat digunakan masyarakat ketika melakukan perjalanan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.


"Bisa digunakan untuk perjalanan, apakah nanti perjalananya di dalam negeri atau luar negeri, (kartu) itu sudah menandakan (sebagai bukti) bahwa kita sudah pernah divaksin, itu bisa dibawa (print out-nya, red), dan nanti secara elektronik juga ada," katanya.


Selain itu, yang tak kalah penting pula, Jamiril kembali menegaskan bahwa pemberian vaksin kepada masyarakat ini tidak dipungut biaya sepeserpun.


"(Silahkan) di faskes-faskes (fasilitas kesehatan) yang sudah ditentukan, seperti puskesmas. Ini 100 persen gratis," jelasnya. 

(FikA/M.Tasya)

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu